Posted in PENDIDIKAN

meningkatkan hasil belajar TIK materi pokok perangkat keras

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi telah mendorong terjadinya banyak perubahan, hal tersebut banyak menuntut kesiapan sumberdaya manusia yang kompetitif dan berkualitas. Hal tersebut tentu memberikan persepsi perlunya kemajuan dan pengembangan disegala bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Dunia pendidikan sangat penting dan tidak dapat terlepas dari kebutuhan manusia itu sendiri.

Untuk mencapai perkembangan di dunia pendidikan maka haruslah pendidikan itu sendiri beradaptasi dengan zaman. Perwujudan masyarakat berkualitas menjadi tanggung jawab dari pendidik, terutama dalam menyiapkan peserta didik manjadi subjek yang semakin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh kreatif dan mandiri serta profesional pada bidang masing-masing.

Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai – nilai positif  dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Dan untuk mencapai perwujudan masyarakat yang disebutkan di atas maka ada beberapa unsur yang amat penting di antaranya metode mengajar dan Media Pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media antara lain. tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karateristik siswa.

Khususnya dalam Proses pembelajaran mata pelajaran Teknologi Informasi dan Teknologi (TIK) yang cenderung lebih banyak menggunakan laboratorium computer dibanding  di dalam ruang kelas sebagai ruang tempat proses belajar mangajar. Dengan pertimbangan tersebut maka diperlukan media sebagai hal terpenting yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dan dapat lebih mudah tercapai. Dengan menggunakan media tersebut maka pemilihan metode harus tepat dengan menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Mengingat di sekolah SMP Muahammadiyah Belawa, media yang tersedia masih sangat terbatas  yang menyebabkan proses pembelajaran terhambat dalam proses penentuan waktu dikarenakan jumlah siswa tidak sebanding dengan jumlah alat yang tersedia. Maka keterampilan guru sangat dibutuhkan dalam mengatasi masalah seperti ini sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.

Berdasarkan masalah di atas yang melatar belakangi penulis mengangkat sebuah judul Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar TIK Materi Pokok Perangkat Keras Menggunakan Metode Kerja Kelompok bagi Siswa Kelas VII SMP Muahammadiyah Belawa”.
 

B.Identifikasi Masalah

Dengan pertimbangan di atas, maka kondisi yang dapat disimpulkan  untuk saat ini adalah

  1. Penggunaan metode pembelajaran yang belum tepat
  2. Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK
  3. Kurangnya sarana dan prasarana dalam kelas.

 

C. Rumusan Masalah

 

Berdasarkan dari latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka fokus permasalahan yang penulis angkat adalah: Apakah penerapan  metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil  belajar TIK pokok bahasan perangkat keras siswa kelas VII SMP Muahammadiyah Belawa?

D.Hipotesis Tindakan

Dengan penerapan metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar TIK pokok bahasan perangkat keras siswa kelas VII SMP Muahammadiyah Belawa.

E.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian pada PTK ini adalah untuk mengatur waktu dengan jumlah siswa yang berbanding terbalik dengan jumlah media, dengan tujuan memaksimalkan efektivitas waktu pembelajaran TIK pokok bahasan pengenalan Perangkat Keras Siswa Kelas VII SMP Muahammadiyah Belawa melalui penerapan Kerja Kelompok.

F.Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang diharapkan pada Penelitian Tindakan Kelas  ini adalah:

  1. Bagi guru peneliti, dapat meningkatkan keterampilan dalam perencanaan dan pengelolaan pembelajaran, terkait dengan pemilihan metode pembelajaran dengan melihat kelemahan-kelemahan ataupun kekurangan yang ada sehingga tujuan pembelajaran tetap dapat tercapai.
  2. Bagi siswa, dengan metode ini siswa mendapat pemerataan dalam menerima pelajaran yang dapat membantu mereka mencapai hasil belajar yang diharapkan pada mata pelajaran tersebut.
BAB II

KAJIAN TEORI

A.Belajar dan Pembelajaran

1.Pengertian belajar

Belajar merupakan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antar individu dengan individu, individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi. Jadi belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan perilaku dan persepsi, termasuk perbaikan tingkah laku, pemuasan kebutuhan pribadi maupun masyarakat secara lengkap.

Dalam pengertian terdapat kata “perubahan” yang berarti bahwa seseorang yang telah mengalamiperubahan tingkah laku baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun dalam sikapnya. Perubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan adalah dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari bodoh menjadi pintar. Dari aspek keterampilan adalah dari tidak bisa menjadi bisa, jadi tidak terampil menjadi terampil. Dalam aspek sikap adalah ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan, dari kurang ajar menjadi terpelajar. Hal ini merupakan salah satu kriteria keberhasilan belajar yang diantaranya ditandai oleh terjadinya perubahan tingkah laku pada diri invidu yang belajar. Tanpa adanya perubahan tingkah laku belajar dianggap tidak berhasil.

Berikut ini kita akan membahas teori teori belajar dan implikasinya dalam proses pembelajaran. Diantaranya :

a.Teori Gagne

Gagne beranggapan bahwa hirarki belajar itu ada, sehingga penting bagi guru untuk menentukan urutan materi belajar yang harus diberikan. Materi-materi yang berfungsi prasyarat harus diberikan terlebih dahulu. Keberhasilan siswa belajar kemampuan yang lebih tinggi, ditentukan oleh apakah siswa itu memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah atau tidak. Kemampuan manusia sebagai tujuan belajar menurut Gagne dibedakan menjadi 5 kategori, yaitu :

  1. Keterampilan intelektual
  2. Informasi verbal
  3. Strategi kognitif
  4. Keterampilan motorik
  5. Sikap

Untuk mencapai hasil belajar yang demikian maka proses belajar mengajar harus memperhatikan kejadian instruksional yang meliputi

  1. Menarik perhatian,
  2. Menjelaskan tujuan,
  3. Mengingat kembali apa yang telah dipelajari,
  4. Memberikan materi pelajaran,
  5. Memberi bimbingan belajar,
  6. Memberi kesempatan,
  7. Memberi umpan balik tentang benar tidaknya tindakan yang dilakukan,
  8. Menilai hasil belajar, mempertinggi retensi dan transfer.

b.Teori Piaget

Adapun Prinsip teori Piaget adalah sebagai berikut:

  1. Manusia tumbuh beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, kepribadian, sosioemosional, kognitif, dan bahasa;
  2. Pengetahuan datang melalui tindakan.
  3. Perkembangan kognitif sebagian besar tergantung seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan.

Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak secara garis besar sebagai berikut:

  1. Periode sensori motor ( 0-2 tahun ).
  2. Periode praoperasional ( 2-7 tahun ).
  3. Periode operasional konkrit ( 7-11 tahun ).
  4. Periode operasi formal ( 11-15 tahun ).

Konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget, yaitu :

  1. Skemata, dipandang sebagai sekumpulan konsep.
  2. Asimilasi, peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah ada sebelumnya.
  3. Dimiliki oleh seseorang.
  4. Akomodasi, terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok.
  5. Kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama.
  6. Equilibrium (keseimbangan), bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal informasi baru.

Implikasi teori Piaget dalam Proses Pembelajaran, yaitu :

  1. Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya tetapi juga prosesnya.
  2. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam proses belajar.
  3. Pembelajaran, penyajian pengetahuan jadi tidak mendapat tekanan.
  4. Memaklumi adanya perbedaan individual, maka kegiatan pembelajaran diatur dalam bentuk kelompok kecil.
  5. Peran guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman yang luas.

c.Teori Bruner

Teori Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Di dalam teorinya Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti 3 tahap representasi yang berurutan, yaitu:

  1. Enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya;
  2. Iconic representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan
  3. Simbolic reprentation, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada periode ini anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.

Berbeda dengan Piaget, Bruner memiliki pandangan yang lain tentang peranan bahasa dalam perkembangan intelektual anak. Bruner berpendapat meskipun bahasa dan pikiran berhubungan, tetapi merupakan dua sistem yang berbeda. Bahasa merupakan alat berfikir dalam yang berbentuk pikiran. Dengan kata lain proses berfikir adalah akibat bahasa dalam yang berlangsung dalam benak siswa. Bruner juga berpendapat bahwa kesiapan adalah penguasaan keterampilan sederhana yang memungkinkan seseorang menguasai keterampilan lebih tinggi. Menurut Bruner kita tidak boleh menunggu datangnya kesiapan, tetapi harus membantu tercapainya kesiapan itu. Tugas orang dewasalah mengajarkan kesiapan itu pada anak. Berhubungan dengan proses belajar Bruner dikenal dengan belajar penemuannya (discovery learning).Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah :

  1. Menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah;
  2. Anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya.

Dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dalam benaknya. Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan menyingkirkan informasi yang tak perlu.

 

d.Teori Ausubel

Ausubel berpendapat bahwa belajar penemuan itu penting, tetapi dalam beberapa situasi tidak efisien, ia lebih menekankan guru sentral, sehingga Ausubel kurang menekankan belajar aktif. Penekanannya pada ekpositorik. Ausubel menekankan

  1. Enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya;
  2. Iconic representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan
  3. Simbolic reprentation, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada periode ini anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.

Berbeda dengan Piaget, Bruner memiliki pandangan yang lain tentang peranan bahasa dalam perkembangan intelektual anak. Bruner berpendapat meskipun bahasa dan pikiran berhubungan, tetapi merupakan dua sistem yang berbeda. Bahasa merupakan alat berfikir dalam yang berbentuk pikiran. Dengan kata lain proses berfikir adalah akibat bahasa dalam yang berlangsung dalam benak siswa. Bruner juga berpendapat bahwa kesiapan adalah penguasaan keterampilan sederhana yang memungkinkan seseorang menguasai keterampilan lebih tinggi. Menurut Bruner kita tidak boleh menunggu datangnya kesiapan, tetapi harus membantu tercapainya kesiapan itu. Tugas orang dewasalah mengajarkan kesiapan itu pada anak. Berhubungan dengan proses belajar Bruner dikenal dengan belajar penemuannya (discovery learning).Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah :

  1. Menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah;
  2. Anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya.

Dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dalam benaknya. Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan menyingkirkan informasi yang tak perlu.

 

e.Teori Ausubel

Ausubel berpendapat bahwa belajar penemuan itu penting, tetapi dalam beberapa situasi tidak efisien, ia lebih menekankan guru sentral, sehingga Ausubel kurang menekankan belajar aktif. Penekanannya pada ekpositorik. Ausubel menekankan pengajaran verbal yang bermakna         ( meaningful verbal instruction ). Menurut Ausubel, setiap ilmu mempunyai struktur konsep-konsep yang membentuk dasar sistem informasi ilmu tersebut. Semua konsep berhubungan satu sama lain (organiser).

Struktur konsep dari setiap bidang dapat diidentifikasi dan diajarkan kepada semua siswa dan menjadi sitem proses informasi mereka yang disebut dengan peta intelektual. Peta intelektual ini dapat digunakan untuk menganalisa domain tertentu dan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan erat dengan aktivitas domain tersebut. Belajar adalah mencocokkan konsep dalam suatu pokok bahasan ke dalam sistem yang dimilikinya untuk kemudian menjadi milikinya dan berguna baginya.

 

f.Teori Vygotsky

Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya, atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development . Zone of proximal development maksudnya adalah perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Selanjutnya Vygorsky lebih menekankan scaffolding yaitu memberikan bantuan penuh kepada anak dalam tahap-tahap awal pembelajaran yang kemudian berangsur-angsur dikurangi dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggungjawab semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya.

g.Teori Konstruktivis

Ide-ide Piaget, Vygotsky, Bruner dan lain-lain membentuk suatu teori pembelajaran yang dikenal dengan teori konstruktivis. Ide utama teori ini adalah:

  1. Siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri;
  2. Agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri;
  3. Belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi; dan
  4. Belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu diubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.

Menurut Suradijono dalam Herawati, pembelajaran adalah kerja mental aktif, bukan menerima pengajaran dari guru secara pasif. Guru berperan memberi dukungan,tantangan berfikir,melayani sebagai pelatih namun siswa tetap kunci pembelajaran Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah :

  1. Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar hasilnya saja.
  2. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatanpembelajaran
  3. Menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke sederhana, dari pada bottom-up dari yang sederhana bertahap berkembang ke komplek
  4. Menerapkan pembelajaran koperatif

h.Rangkuman Teori

Dari beberapa teori yang telah diuraikan dan dengan pertimbangan dari karakteristik materi pelajaran yang dibawakan maka teori pembelajaran yang relevan dengan materi adalah teori konstruktivis karena teori ini merupakan gabungan Ide-ide Piaget, Vygotsky, Bruner dan lain-lain yang kemudian terbentuklah teori konstruktivis. Ide utama teori ini adalah:

  1. Siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri;
  2. Agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri;
  3. Belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi; dan
  4. Belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu diubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.

Dan salah satu Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah Menerapkan pembelajaran koperatif

2.Pengertian Pembelajaran

Proses pembelajaran merupakan  tahapan – tahapan yang dilalui dalam mengembangkan  kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuanyang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang guru untuk melalui tahap-tahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus berupaya dengan optimal  mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didik,  demi  mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh E.Mulyasa (2007), bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik. Untuk mampu melakukan proses  pembelajaran ini si guru harus mampu menyiapkan proses pembelajarannya.

Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran.

B.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran

Secara umum faktor-faktor yag mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal . kedua faktor tersebut saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.

1. faktor internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.

 

a.Faktor fisiologis

Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.

 

Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang . kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses

 

Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula . dalam proses belajar , merupakan pintu  masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehinga manusia dapat menangkap dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga panca indra dengan baik, baik secara preventif maupun secara yang bersifat kuratif.

Dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodic, mengonsumsi makanan yang bergizi , dan lain sebagainya.

b.Faktor psikologis

Faktor – faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memngaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motifasi , minat, sikap dan bakat.

Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan dmikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.

Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi iteligensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelegensi individu, semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru profesional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasannya.

Para ahli membagi tingkatan IQ bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ oleh Till (1971), distribusi sebagai berikut:

Tingkat kecerdasan (IQ) Klasifikasi
140 keatas Genius
110 – 1301 Superior
90 – 110 Di atas rata-rata
70 – 90 Lambat
50 – 70 Moron
0 – 50 Idiot

Dari tabel tersebut, dapat diketahui ada 6 penggolongan tingkat kecerdasan manusia, yaitu:

  1. Kelompok kecerdasan gejius IQ 140 ke atas, mereka mampu belajar jauh lebih cepat dari golongan lainnya;
  2. Kelompok kecerdasan superior IQ 110 – 130, mereka yang cepat mengerti;
  3. Kelompok kecerdasan di atas rata-rata dengan IQ 90 – 110 , kelompok ini digolongkan di atas rata-rata;
  4. Kelompok kecerdasan anak lambat IQ 70 – 90, golongan ini di bawah rata-rata;
  5. Kelompok kecerdasan moron dengan IQ antara 50 – 70,
  6. golongan ini memiliki keterbatasan atau kelemahan mental;
  7. Kelompok kecerdasan idiot yang IQnya  antara 0 – 50, dari IQ 0 – 20 atau 25 tergolong tidak dapat dididik atau dilatih mereka hanya mampu belajar tidak lebih dari dua tahun, sedangkan IQ 25 – 50 bisa dididik untuk mengurus kegiatan rutin yang sederhana atau untuk mengurus kebutuhan jasmaninya.

2.Faktor-faktor eksogen/eksternal

Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah menjelaskan bahwa faktaor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan social dan faktor lingkungan non sosial.

 

a.Lingkungan social

  1. Lingkungan social sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa.
  2. Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa.
  3. Lingkungan social keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa.

b.Lingkungan non social.     

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah;

  1. Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang.
  2. Faktor instrumental,yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahraga dan lain sebagainya.
  3. Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa.

C.Hasil Belajar

Hasil belajar menggambarkan kemampuan siswa dalam mempelajari sesuatu. Salah satu pendapat mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki atau dikuasai siswa setelah menempuh proses belajar. Hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan siswa dala mempelajari suatu pembelajaran tercermin dari hasil belajarnya. Berikut ini adalah factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar:

1.  Faktor yang berasal dari dalam diri manusia berupa factor biologis dan factor psikologis.

2.  Faktor yang berasal dari luar diri manusia berupa factor manusia dan factor non manusia.

D.Metode Mengajar

Metode mengajar adalah cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu peranan metode mangajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar dan pembelajaran. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing untuk menyampaikan pesan, sedangkan siswa berperan sebagai penerima pesan atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik kalau siswa banyak yang aktif dibandingkan dengan guru. Oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa yang lebih aktif.

Ada beberapa jenis-jenis metode mangajar diantaranya  metode ceramah, metode demonstrasi dan eksprimen, metode Tanya jawab, metode diskusi, metode tugas belajar dan resitasi, metode kerja kelompok, metode sosiodrama, metode problem solving, metode system regu, metode latihan, metode karya wisata, metode resource person, metode survai masyarakat, metode simulasi.

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelemahan dan kelebihan masing-masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk kondisi lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu kadang-kadang belum tentu berhasil dibawakan oleh guru lain.

Adakala seorang guru perlu menggunakan beberapa metode dalam menyampikan suatu pokok bahasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal pengajaran guru memberikan suatu uraian dengan metode ceramah kemudian menggunakan contoh-contoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau Tanya jawab. Disini bukan hanya guru yang aktif bicara melainkan siswapun terdorong untuk berpartisipasi. Winarmo Surakhmad dalam bukunya “Pengantar Interaksi Belajar Mengajar” menggolongkan metode-metode itu menjadi dua golongan ialah: Metode interaksi secara individual dan secara kelompok. Namun perlu diketahui bahwa klasifikasi tersebut tetap fleksibel.

Jadi masing-masing metode mengajar tidaklah berarti dalam praktek masing-masing metode tersebut berdiri-sendiri. Proses belajar mengajar yang baik, hendaknya mempergunakan metode mengajar secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain. Masing-masing metode mempunyai kelemahan dan kelebihan. Jadi tugas guru ialah memilih metode yang tepat untuk menciptakan proses belajar mangajar. Ketepatan penggunaan metode mengajar sangat bergantung kepada tujuan , isi proses belajar mengajar.

E.Metode Kerja Kelompok

1. Pengertian Metode Kerja Kelompok

Secara kata “metodik”  itu berasal dari kata “metode” (method), metode berarti suatu cara kerja yang sistematik dan umum, seperti cara kerja ilmu pengetahuan. Kata metode dalam bahasa berasal dari bahasan Greek (Yunani). “Meths” yang berarti melalui atau melewati dan “Hodos” yang berarti jalan atau cara, jadi metode berarti jalan atau cara yang harus ditempuh atau dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.

Istilah kerja kelompok mengandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas dibagi dalam beberapa kelompok baik kelompok yang kecil maupun kelompok yang besar. Pengelompokan bisaanya didasarkan atas prinsip untuk mencapai tujuan bersama. Ada beberapa definisi lain yang dimaksud oleh para pakar pendidikan mengenai pengertian kerja kelompok ini, antara lain :

  1. Metode kerja kelompok adalah penyajian metod dengan cara pembagian tugas-tugas untuk mempelajari suatu keadaan kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan.
  2. Metode kerja kelompok ialah suatu cara menyajikan materi pelajaran dimana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau grup tertentu untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan dengan cara bersama-sama dan bergotong-royong.

Jadi metode kerja kelompok ialah suatu kegiatan belajar mengajar dimana beberapa individu yang bersifat pedagogic yang didalamnya terdapat hubungan timbal balik (kerja sama) antara individu serta saling mempercayai satu sama lain.

2. Penerapan Metode Kerja Kelompok

Dalam penerapan atau penggunaan metode kerja kelompok dapat dijelaskan sesuai dengan penguraian di bawah ini :

  1. Pengelompokan untuk mengatasi keterbatasan media pembelajaran dalam sebuah kelas, guru akan mengajarkan pelajaran TIK pokok bahasan pengenalan perangkat keras, sekolah tidak mempunyai bahan praktek yang cukup untuk tiap siswa. Maka untuk memberi kesempatan yang sama kepada setiap siswa maka dalam kelas dibagi atas beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi seperangkat  komputer setiap kelompok kemudian mengerjakan tugas yang telah disediakan oleh guru.
  2. Pengelompokan atas dasar perbedaan kemampuan belajar, Di suatu kelas, guru dihadapkan pada persoalan bagai mana melaksanakan tugas sebaik-baiknya terhadap kelas yang sifatnya heterogen, yakni berbeda-beda dalam kemampuan belajar. Pada waktu pelajaran TIK, ia menemukan bahwa ada lima orang siswa tidak sanggup menyelesaikan tugas seperti teman-temannya yang lainnya. Guru menyadari bahwa ia tidak mungkin mengajar dengan menyama ratakan seluruh siswa. Maka ia membagi para siswa dalam beberapa kelompok dengan anggota yang mempunyai kemampuan setaraf kemudian diberi tugas sesuai dengan kemampuan mereka. Sekali-kali ia meninjau secara bergilir untuk melihat kelompok mana yang membutuhkan pertolongan atau perhatian sepenuhnya.
  3. Pengelompokan atas dasar perbedaan minat. Pada suatu saat para siswa perlu mendapat kesempatan untuk memilih suatu pokok bahasan yang sesuai dengan minatnya. Untuk keperluan ini guru memberikan suatu pokok bahasan yang terdiri dari beberapa sub-pokok bahasan. Siswa yang berminat sama dapat berkumpul pada suatu kelompok untuk mempelajari sub-pokok bahasan yang telah diberikan sesuai dengan minat kelompoknya.
  4. Pengelompokan untuk memperbesar partisipasi tiap siswa. Di suatu kelas, guru sedang mengajar kesusastraan. Ia memilih suatu masalah tentang lahirnya sastra baru. Dikemukakanlah masalah-masalah khusus, satu di antaranya adalah mengapa ada pendapat mengatakan bahwa kesadaran kebangsaanlah yang menjadi perbedaan hakiki antara kesusastraan melayu dengan kesusastraan Indonesia. Guru tidak mempunyai waktu yang berlebihan, akan tetapi ia menginginkan setiap siswa berpartisipasi secara penuh. Untuk setiap masalah diperlukan pendapat atau diskusi. Maka dipecahkan kesatuan kelas itu menjadi kelompok-kelompok lebih kecil dengan tugas membahas permasalahan tersebut dalam waktu yang sangat terbatas. Selesai pembahasan kelompok, tiap kelompok mengemukakan pendapat masing-masing. Cara mengajar ini dimaksudkan untuk merangsang tiap siswa agar ikut serta dalam setiap masalah secara intensif. Tak ada seorangpun diantara mereka yang merasa mendapat tugas lebih berat dari pada yang lainnya. Pengelompokan sementara dan pendek semacam ini disebut juga rapat kilat.
  5. Pengelompokan untuk pembagian pekerjaan. Pengelompokan ini didasarkan pada luasnya masalah, serta membutuhan waktu untuk memperoleh berbagai informasi yang dapat menunjang pemecahan persoalan. Untuk keperluan ini pokok persoalan harus diuraikan dahulu menjadi beberapa aspek yang akan dibagikan kepada tiap kelompok. Siswa harus mengumpulkan data, baik dari lingkungan sekitar maupun melalui bahan kepustakaan. Oleh kerena itu proyek ini tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat seperti halnya dengan rapat kilat, melainkan kemungkinan membutuhkan waktu beberapa minggu. Jadi pengelompokan ini bertujuan membagi pekerjaan yang mempunyai cakupan agak luas dan membutuhkan waktu yang  lama.
  6. Pengelompokan untuk belajar bekerja sama secara efisien menuju kesuatu tujuan. Langkah pertama adalah menjelaskan tujuan dari tugas yang harus didikerjakan siswa, kemudian membagi siswa menurut jenis dan sifat tugas, mengawasi jalannya kerja kelompok, dan menyimpulkan kemajuan kelompok. Di sini jelas walaupun siswa bekerja dalam keolompok masing-masing dan melaksanakan bagiannya sendiri-sendiri, namun mereka harus memusatkan perhatian pada tujuan yang akan dicapai, dan menjaga agar jangan sampai keluar dari persoalan pokok. Lain halnya dengan pengelompokan untuk pembagian pekerjaan seperti tersebut. Tugas kelompok di sini tidak perlu diselesaikan dalam jangka waktu yang panjang, guru dapat memilih persoalan yang dapat didiskusikan di kelas.

F.Pengaruh Metode Kerja Kelompok dalam Pembelajaran Pengenalan Perangkat Keras

Pembelajaran Teknologi Informasi dan Teknologi (TIK) yang cenderung lebih banyak menggunakan laboratorium computer dibanding  di dalam ruang kelas sebagai ruang tempat proses belajar mangajar dengan berbagai kendala ataupun masalah yang ditemui, sebagai contoh kurangnya media pembelajaran yang dapat menghambat proses pembelajaran yang berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal ini mengharuskan guru berusaha keras untuk mengatasi masalah-masalah dalam kelas. Guru harus mempuyai keterampilan dalam mengelola pembelajaran, khususnya dalam PTK ini guru dituntut mempunyai keterampilan dalam mengatur waktu pembelajaran yang terbatas  untuk siswa kelas VII yang jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah media yang ada. Dengan tindakan kelas yang dilakukan  diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Di sekolah SMP Muhammadiyah Belawa, media yang tersedia masih sangat terbatas  sehingga guru kesulitan dalam mengatur waktu pembelajaran karena waktu yang dibutuhkan melebihi dari waktu yang telah ditentukan oleh sekolah yang dituliskan dalam jadwal mata pelajaran, maka dalam hal ini diperlukan keterampilan guru untuk memilih metode mengajar sehingga dapat memaksimalkan efektifitas waktu tanpa mengabaikan kepentingan siswa untuk belajar dalam artian pemerataan pengajaran yang diterima oleh siswa dapat merata tanpa melihat latar belakang siswa itu sendiri. Sesuai dengan pembahasan guru menggunakan  metode kerja kelompok yang dibentuk oleh guru, pengelompokan ini masuk dalam kategori pengelompokan untuk mengatasi keterbatasan media pembelajaran sehingga dapat memaksimalkan efektifitas waktu pembelajaran.  Dalam sebuah kelas, guru akan mengajarkan pelajaran TIK pokok bahasan pengenalan perangkat keras, sekolah tidak mempunyai bahan praktek yang cukup untuk tiap siswa. Maka untuk memberi kesempatan yang sama kepada setiap siswa maka dalam kelas dibagi atas beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi seperangkat  komputer untuk dibongkar setiap perangkatnya kemudian mengerjakan tugas yang telah disediakan oleh guru. Dengan metode tersebut pembelajaran  dapat dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.Setting Penelitian

1.   Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi yang bertempat di SMP Muhammadiyah     Belawa.

2.   Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada semester ganap tahun pelajaran 2010-2011,     pada bulan Januari  – Februari 2011.

3.   Siklus Penelitian

PTK ini dilakukan melalui dua siklus penelitian untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dan hubungan kerja sama yang dijalin antar siswa dalam proses pembelajaran TIK melalui penerapan kerja kelompok.

B.Persiapan PTK

Sebelum melaksanakan PTK sebaiknya peneliti menyiapkan berbagai input instrumental yang akan digunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK, yaitu rencana pembelajaran yang akan dijadikan PTK yaitu kompetensi dasar mengidentifikasi berbagai komponen perangkat keras (hardware) computer.

Selain itu akan dibuat juga daftar nama kelompok beserta nama-nama anggota kelompok, lembar kerja siswa, lembar pengamatan kegiatan siswa, lembar evaluasi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

C.Subjek Penelitian

Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah semua siswa kelas VII SMP Muhammadiyah Belawa dengan jumlah siswa – siswi 37 orang. Dengan siswa laki-laki sebanyak 17 orang dan siswa perempuan sebanyak 20 orang.

D.Sumber Data

Sumber data diperoleh dari siswa kelas VII yang berupa hasil belajar dan pengamatan terhadap kegiatan siswa selama dalam proses belajar mengajar

E.Teknik dan Alat Pengumpulan Data 

1. Teknik dan alat  pengambilan data dalam penelitian ini adalah:

a. Tes Kemampuan Praktikum.

Tes ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan dalam mempraktekkan teori yang telah dijelaskan oleh guru. Adapun yang digunakan yaitu tes keterampilan dalam merakit komputer.

b. Soal Ulangan Praktek.

Soal ulangan harian yang digunakan yaitu soal ulangan harian untuk bahan kajian pengenalan perangkat keras.

c. Hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari pemberian evaluasi (tes tertulis). Penilaian afektif dan psikomotorik diperoleh dari pengamatan melalui lembar observasi

2. Alat pengumpulan data terdiri dari:

a. Tes Tertulis

b. Tes Praktikum

c. Lembar pengamatan

F.Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus melalui  tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Tahap-tahap yang dilakukan pada setiap siklus adalah sebagai berikut :

1.  Siklus 1

a.  Perencanaan (Planning)

1. Observasi awal untuk mengidentifikasi masalah yang berasal dari siswa dan guru dan menganalisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang ingin disampaikan kepada siswa.

2. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran

3. Membuat lembar pengamatan

4. Menyusun alat evaluasi pembelajaran baik untuk tes praktek ataupun tes tertulis

b. Pelakasanaan (Action)

Pertemuan Pertama

1) Pendahuluan

a. Guru menunjukkan sebuah perangkat yang ada di chassing komputer (dapat dilakukan dengan memcabut perangkat dan dapat juga ditunjukkan saat masih terpasang).

b. Guru bertanya apa nama perangkat keras tersebut dan apa gunanya.

2) Kegiatan Inti

a. Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengetahuan awal peserta didik melalui pertanyaan atau tanya jawab tentang perangkat keras yang ada di chassing komputer.

b. Guru mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah peralatan keras yang ada.

c. Guru menjelaskan menjelaskan materi pembelajaran

d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan hasil teori yang diterima

e. Guru mengamati kegiatan siswa dengan mengisi lembar penilaian.

3) Penutup

a. Guru memandu untuk pengambilan kesimpulan.

b. Guru memberikan pengembangan konsep

c. Guru membimbing siswa membuat rangkuman hasil pembelajaran

d. Guru memberikan penghargaan pada kelompok terbaik

e. Guru memberikan tugas untuk membuat kliping dari media cetak seputar perangkat keras yang terbaru, teknologi apa yang digunakan dan apa kelebihanya.

Pertemuan Kedua 

      1) Kegiatan Pendahuluan

a. Guru bertanya apa saja perangkat-perangkat keras yang baru keluar dan teknologi apa yang digunakan.

b. Guru memintas siswa untuk mengumpulkan tugas-tugas.

2) Kegiatan Inti

a. Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengetahuan awal peserta didik melalui tanya jawab tentang perangkat-perangkat keras terbaru.

b.   Masing-masing siswa diminta menceritakan sebuah teknologi baru dari kliping yang sudah dibuat secara bergiliran. Point yang harus ditekankan adalah, kegunaan peralatan, teknologi baru yang digunakan, dan manfaat atau kelebihannya dari peralatan yang sudah ada.

c.  Guru memberi komentar terhadap peralatan TIK yang diceritakan oleh siswa.

3) Penutup

a. Guru bersama peserta didik melakukan diskusi kelas untuk menarik kesimpulan tentang perangkat keras terbaru.

b. Guru memberikan pengembangan konsep

c.  Guru membimbing siswa untuk merangkum hasil pembelajaran.

c. Pengamatan (Observasi)

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pengamatan kemampuan afektif dan psikomotorik siswa melalui lembar observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Kemampuan afektif siswa yang diamati terdiri dari keaktifan mengikuti pelajaran, kerjasama, kejujuran, menghargai teman sekelompok ataupun teman yang ada dikelompok lain, dan bertanggung jawab. Kemampuan psikomotorik siswa yang diamati terdiri dari kegiatan praktikum, menyampaikan hasil dan membereskan alat percobaan.

d. Refleksi (Reflecting)

Semua data yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan dan proses observasi dikumpulkan, dianalisis dan dievaluasi untuk mengetahui berhasil atau tidaknya tindakan yang dilakukan. Setelah selesai guru peneliti kemudian merekapitulasi jumlah siswa yang menjawab benar dan salah. Bimbingan dan pelatihan akan diberikan pada pertemuan-pertemuan selanjutnya sesuai dengan urutan logis materi yang akan diajarkan. Jika ≥ 25% siswa mengalami kesulitan atau belum menguasai keterampilan tersebut maka guru perlu memberikan bimbingan dan pelatihan secara klasikal. Tetapi jika ≤ 25% siswa yang mengalami kesulitan atau belum menguasai keterampilan tersebut maka guru hanya memberikan bimbingan dan pelatihan secara individual kepada siswa yang mengalami kesulitan. Batas 25% dipilih karena merupakan jumlah yang kira-kira mampu ditangani oleh guru peneliti untuk memberikan bimbingan individual dan pemanfaatan tutor sebaya.

2. Siklus 2

a. Perencanaan

1. Mengidentifikasi masalah pada siklus pertama dan menyusun alternatif pemecahannya.

2. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) materi Kalor sesuai dengan silabus.

3. Membuat lembar pengamatan

4. Menyusun alat evaluasi pembelajaran baik untuk tes praktek ataupun tes tertulis

b. Pelaksanaan

Pertemuan Ketiga

1) Pendahuluan

a. Guru bertanya apa perangkat saja Input-Output komputer yang ada saat ini.

b. Guru bertanya siapa siswa yang pernah mencoba untuk menghubungkan perangkat-perangkat tersebut ke komputer.

2) Kegiatan Inti

a. Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengalaman dan pengetahuan awal peserta didik melalui tanya jawab tentang perangkat Input-Output.

b. Masing-masing kelompok untuk mendapatkan setiap perangkat input output untuk didiskusikan.

c. Masing-masing kelompok membahas seputar topik berikut ini:

1. Apa fungsi perangkat tersebut?

2. Merek-merek apa yang terkenal di pasaran? Mengapa?

3. Jika ingin membeli, apa yang harus dipertimbangkan, mengapa?

d. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi.

e. Guru mengomentari presentasi siswa dan menekankan point-point penting.

3) Penutup

a. Guru bersama peserta didik melakukan diskusi kelas dan mengambil kesimpulan.

b. Guru memberikan pengembangan konsep

c. Guru membimbing peserta didik merangkum hasil pembelajaran

d. Guru memberikan tugas untuk mencari kliping perangkat input-output terbaru yang ada dipasaran, teknologi apa yang digunakan, kelebihan, harga dan sebagainya.

Pertemuan Keempat

1) Pendahuluan

a. Guru mengumpulkan tugas siswa.

b. Guru membahas hasil-hasil kliping yang memuat perangkat input output terbaru di pasaran.

c. Guru bertanya apakah siswa pernah melihat komputer yang terhubung dalam jaringan atau Internet.

d. Guru bertanya apakah siswa pernah melihat orang duduk di Mall sambil membuka laptop dan bermain Internet. Bagaiman laptop bisa terhubung ke internet di Mall padahal tidak ada kabel penghubung.

e. Guru bertanya jika ingin menghubungkan komputer dalam jaringan dan Internet apa saja yang dibutuhkan.

2) Kegiatan Inti

a. Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengalaman dan pengetahuan awal peserta didik melalui tanya jawab tentang perangkat jaringan dan Internet.

b. Guru membagi siswa dalam kelompok

c. Masing-masing kelompok untuk mendapatkan setiap perangkat jaringan dan Internet (dua kelompok berbeda dapat membahas perangkat yang sama jika jumlah kelompok banyak).

d. Masing-masing kelompok melakukan mendiskusikan seputar topik berikut ini:

1. Bagaimana laptop bisa terhubung ke Internet di Mall. Apa saja perangkat yang dimilikinya?

2. Jika kita membawa PC ke Mall, apakah kita bisa juga terhubung ke Internet? Apa perangkat yang kita butuhkan.

3. Apa fungsi perangkat tersebut?

4. Merek-merek apa yang terkenal di pasaran? Mengapa?

5. Jika ingin membeli, apa yang harus dipertimbangkan, mengapa?

e. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi.

f.  Guru mengomentari presentasi siswa dan menekankan point-point penting.

3) Penutup

a. Guru bersama peserta didik melakukan diskusi kelas dan mengambil kesimpulan.

b. Guru memberikan pengembangan konsep

c. Guru membimbing peserta didik merangkum hasil pembelajaran

d. Pengamatan

Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa. Dalam satuan kelompok.

4) Kegiatan Inti

a. Guru menginformasikan kompetensi yang akan dicapai sambil menggali pengalaman dan pengetahuan awal peserta didik melalui tanya jawab tentang perangkat jaringan dan Internet.

b. Guru membagi siswa dalam kelompok

c. Masing-masing kelompok untuk mendapatkan setiap perangkat jaringan dan Internet (dua kelompok berbeda dapat membahas perangkat yang sama jika jumlah kelompok banyak).

d. Masing-masing kelompok melakukan mendiskusikan seputar topik berikut ini:

1. Bagaimana laptop bisa terhubung ke Internet di Mall. Apa saja perangkat yang dimilikinya?

2. Jika kita membawa PC ke Mall, apakah kita bisa juga terhubung ke Internet? Apa perangkat yang kita butuhkan.

3. Apa fungsi perangkat tersebut?

4. Merek-merek apa yang terkenal di pasaran? Mengapa?

5. Jika ingin membeli, apa yang harus dipertimbangkan, mengapa?

e. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi.

f. Guru mengomentari presentasi siswa dan menekankan point-point penting.

5) Penutup

a. Guru bersama peserta didik melakukan diskusi kelas dan mengambil kesimpulan.

b. Guru memberikan pengembangan konsep

c. Guru membimbing peserta didik merangkum hasil pembelajaran

 

 

 

sumber : http://www.artikelind.com/2011/06/meningkatkan-hasil-belajar-tik-materi-pokok-perangkat-keras.html

Advertisements