Posted in PENDIDIKAN

pengaruh pendidikan terhadap lingkungan

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan manusia, pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk generasi mendatang. Dengan pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia berkualitas, bertanggung jawab dan mampu meng-antisipasi masa depan. Pendidikan dalam maknanya yang luas senantiasa menstimulir, menyertai perubahan-perubahan dan perkembangan umat manusia. Selain itu, upaya pendidikan senantiasa menghantar, membimbing perubahan dan perkembangan hidup serta kehidupan umat manusia.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[1]

Secara kelembagaan, tanggungjawab pendidikan dibebankan kepada tiga lingkungan yaitu, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan keluarga. Ketiganya, disebut tripusat pendidikan di mana satu sama lainnya saling terkait dan saling menunjang untuk mewujudkan sasaran dan tujuan pendidikan. Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah merupakan jalur formal, sedangkan pendidikan yang diselenggarakan di masyarakat merupakan jalur nonformal, dan pendidikan yang diselenggarakan di keluarga merupakan jalur informal.

Dalam implementasinya, orangtualah sebagai penanggungjawab pendidikan di lingkungan rumahtangga; guru-guru dan pengelolah sekolah termasuk pemerintah sebagai penanggungjawab pendidikan di lingkungan sekolah; tokoh masyarakat dan selainnya sebagai penanggungjawab pendidikan di lingkungan masyarakat. Ketiga pihak ini, masing-masing memiliki tanggung jawab pendidikan secara tersendiri dalam lingkungannya masing-masing, namun tidaklah berarti bahwa mereka hanya bertanggung jawab penuh di lingkungannya, tetapi juga memiliki tanggung jawab yang signifikan dalam lingkungan pendidikan lainnya. Orang tua misalnya, ia memang sebagai penanggungjawab pendidikan di lingkungan rumahtangganya, tetapi tanggung jawab tersebut bukan hanya terbatas pada lingkungan rumahtangganya, namun juga dibutuhkan tanggung jawabnya di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Bilamana masing-masing pihak menjadikan pendidikan sesuatu yang utama, dan mengupayakan keberhasilan pendidikan di berbagai lingkungan, praktis bahwa pendidikan tersebut berpengaruh kepada masing-masing lingkungan pendidikan. Misalnya, ketika pendidikan formal di sekolah berhasil maka pengaruhnya sangat nampak pula pada lingkungan rumahtangga dan masyarakat.

Salah satu lembaga pendidikan formal tingkat dasar di Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar, adalah SD Negeri No. 46 Satangnga. Sekolah ini dianggap telah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lingkungan. Pengaruh tersebut boleh dikata sebagai pengaruh pendidikan yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam bentuk kajian skripsi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnnya, maka masalah pokok yang diteliti dalam kajian skripsi ini adalah bagaimana pengaruh pendidikan terhadap lingkungan di SD Negeri No. 46 Satangnga Kec. Mappakasunggu Kabupaten Takalar ?

Untuk penelitian lebih lanjut, masalah pokok di atas, dikembang-kan menjadi dua sub-sub masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengaruh pendidikan di SD Negeri No. 46 Satangnga terhadap lingkungan sekolah ?
  2. Bagaimana pengaruh pendidikan di SD Negeri No. 46 Satangnga terhadap lingkungan luar sekolah ?

C. Hipotesis

Dari rumusan permasalahan yang dikemukakan, maka hipotesis sebagai jawaban sementara dalam penelitian ini adalah :

  1. Pengaruh pendidikan di SD Negeri No. 46 Satangnga terhadap lingkungan sekolah, yakni di lingkungan belajar siswa yang dilaksanakan secara formal kemungkinan sangat kuat dalam arti pengaruhnya sangat positif, sebab pendidikan di sekolah tersebut selama ini berjalan dengan baik, dan para murid di SD Negeri No. 46 Satangnga dianggap memiliki prestasi yang tinggi, dan prestasi tersebut menjadi sekolahnya berhasil pula dan ini merupakan pengaruh yang sangat signifikan.
  2. Pengaruh pendidikan di SD Negeri No. 46 Satangnga terhadap lingkungan luar sekolah, yakni di lingkungan pendidikan informal dan di lingkungan pendidikan nonformal, juga kemungkinan bisa dikatakan sejalan dengan pengaruh yang telah dihasilkan di lingkungan sekolah tadi, sebagaimana yang dikemukakan dalam hipotesis sebelumnya.

D. Pengertian Judul dan Ruang Lingkup Operasional

Untuk memperoleh pemahaman yang jelas tentang fokus kajian dalam penelitian skripai ini, serta menghindari kesalahpahaman (mis undertansing) terhadap operasionalisi dan obyek penelitiannya, maka yang perlu dikemukakan adalah pengertian tentang pengaruh pendidikan dan lingkungan pendidikan.

Pengaruh adalah adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak.[2] Sedangkan pendidikan adalah usaha mendewasakan manusia, dan hal tersebut dilakukan dalam lingkungan pendidikan, yakni di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Lingkungan pendidikan yang dimaksudkan dalam skripsi ini adalah lingkungan sekolah, yakni di SD Negeri No. 46 Satangnga.

Lingkungan pendidikan pada dasarnya, ada di sekolah di luar sekolah, lingkungan sekolah adalah lingkungan di mana pendidikan formal dilaksanakan, misalnya di SD Negeri No. 46 Satangnga.

Pelaksanaan pendidikan SD Negeri No. 46 Satangnga, jelas sekali memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah.

Berdasar dari rumusan pengertian di atas, maka operasional penelitian skripsi ini adalah meneliti pengaruh pendidikan SD Negeri No. 46 Satangnga terhadap lingkungan sekolah sendiri, dan di lingkungan luar sekolah, yakni di lingkungan rumah tangga atau di lingkungan keluarga, dan di lingkungan masyarakat sekitar.

E. Tujuan dan Kegunaan

Penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Mendiskripsikan pengaruh pendidikan di SD Negeri No. 46 Satangnga terhadap lingkungan sekolah, yakni di lingkungan belajar siswa yang dilaksanakan secara formal.
  2. Mendiksripsikan pengaruh pendidikan di SD Negeri No. 46 Satangnga terhadap lingkungan luar sekolah, yakni di lingkungan pendidikan informal dan di lingkungan pendidikan nonformal.

Adapun kegunaan penelitian ini adalah :

  1. Kegunaan ilmiah, yakni sebagai sebagai sumbangsih pemikiran dalam rangka mengetahui sejauh mana pengaruh pendidikan di sekolah, dan agar pengaruh tersebut jika dampaknya positif hendaknya dipertahankan.
  2. Kegunaan praktis, yakni sebagai bahan informasi tentang pengaruh pendidikan di sekolah, untuk dimengerti oleh semua pihak dan agar diambil manfaatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

F. Garis Besar Isi Skripsi

Skripsi ini terdiri atas lima bab pembahasan. Bab I, merupakan pendahuluan yang secara umum pembahasannya memberikan gambaran singkat dan orientasi dari obyek penelitian yang akan dibahas pada bab-bab berikutnya. Bab II, tentang tinjauan pustaka dijelaskan pengertian pendidikan, pendidikan lingkungan sekolah dan luar sekolah. Bab III, adalah metode penelitian, yang pembahasannya bersifat metodologis. Bab IV, adalah hasil penelitian yang melaporkan berbagai data dan informasi mengenai Profil SD Negeri No. 46 Satangnga, dan Pengaruh Pendidikan di SD Negeri No. 46 Satangnga lingkungan sekolah dan luar lingkungan sekolah. Bab V, merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan implikasi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pendidikan

Kata Pendidikan secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, paedagogie, terdiri atas dua suku kata yakni paes yang berarti anak, dan again yang berarti membimbing. Jadi paedagogie berarti bimbingan yang diberikan kepada anak.[3] Dengan demikian pendidikan dalam bahasa Yunani adalah usaha membimbing, mengarahkan, dan membina anak-anak (peserta didik). Dari pengertian ini, kemudian ditemukan definisi lebih lanjut bahwa pendidikan adalah mempengaruhi dan mengusahakan anak supaya menjadi dewasa dengan cara membimbing-nya. Boleh juga dikatakan bahwa pendidikan adalah membantu anak supaya tumbuh berkembang dan kelak menjadi cakap. Definisi yang lebih luas lagi, memberi tuntunan kepada anak yang belum dewasa menjadi dewasa agar tumbuh dan berkembang jasmani dan rohaniahnya, pendidikan ini dimulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah ia meninggal dunia. Jadi pendidikan itu berlangsung seumur hidup.

Definisi etimologis di atas menunjukkan bahwa obyek pendidikan adalah anak. Demikian halnya karena anak adalah makhluk yang sedang tumbuh, dan penting sekali dimulai sedini mungkin, sejak bayi sebab belum dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya, baik untuk mempertahankan hidup maupun merawat dirinya. Dengan demikian, pendidikan adalah upaya pembentukan kepribadian yang lebih matang. Dalam konsep Islam, tentu kepribadian yang dimaksud adalah kepribadian muslim yang ideal.

Kemudian pendidikan secara terminologi, banyak dikemukakan para pakar dalam berbagai definisinya masing-masing, misalnya :

a. John S. Brubacher :

Education should be thougt of the procces of man’s reciprocal adjustment to nature, to his fellows, and to the ultimate nature of the cosmos. Education is the organized development and aquipment of all the powers a human being, moral, intelectual, and phsical, by and for their individual and social uses, directed toward the union of these activities with their Creator as their final end.[4]

Artinya :

Pendidikan adalah proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan sesama, dan dengan alam semesta. Pendidikan juga merupakan perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi-potensi manusia, moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk kepribadian individualnya dan kegunaan masyarakatnya yang di-harapkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan akhir hidupnya.

b. Joe Park : “Education the art of proccess of imparting or acquiring knowledge an habit through instrutional as strudy”.[5] Dalam definisi ini, tekanan pengertian pendidikan adalah pada kegiatan pengajaran (instruction), dan kepribadian yang dibina dari aspek kognitif dan kebiasaan.

c. John Dewey, sebagaimana dikutip oleh Abu Ahmadi dan Uhbiyati :

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan yang fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.[6]

d. Redja Mudyarhardjo :

Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkungan, dan sepanjang hidup di segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.[7]

e. Burhanuddin Salam :

Pendidikan adalah suatu usaha yang disadari untuk mengembang-kan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dilaksanakan di dalam maupun di luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup.[8]

f. Ahmad D. Marimba :

Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan Jasmni dan ruhani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[9]

g. Mappanganro :

Pendidikan adalah suatu usaha untuk menambah kecakapan, keterampilan, pengertian, dan sikap melalui belajar dan pengalaman yang diperlukan untuk memungkinkan manusia mem-pertahankan dan melangsungkan hidup, serta untuk mencapai tujuan hidupnya.[10]

Dari definisi-definisi di atas, pendidikan mengandung suatu pengertian yang sangat luas, dan menyangkut seluruh aspek kegiatan manusia, dalam hal ini kegiatan peserta didik dalam berusaha mendewasakan dirinya, memanusikan dirinya untuk berfikir dewasa.

B. Lingkungan Pendidikan Sekolah

Lingkungan pendidikan sekolah disebut pula lingkungan pen-didikan formal. Dalam hal ini, pendidikan formal ialah pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dengan ketentuan dan norma yang ketat, dengan pembatasan umur dan lamanya pendidikan ini berjenjang dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi.

Penyelenggaraan pendidikan di sekolah menurut Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, dilakukan secara berjenjang dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.[11] Pada setiap jenjang pendidikan ini, terdiri lagi atas beberapa tingkatan kelas, misalnya SD terdiri atas 6 (enam kelas). Sementara penyelenggaraan pendidikan di luar sekolah, di samping tidak berjenjang juga tidak ada pembatasan umur dan usia peserta didik. Itu berarti bahwa pendidikan di luar sekolah dapat berlangsung seumur hidup, bahkan dalam konsep ajaran Islam pendidikan di luar sekolah dilaksanakan sejak dalam kandungan.

Ahmad Tafsir berpendapat bahwa pengiriman anak di sekolah dikarenakan kehidupan sekolah sebagai jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan masyarakat kelak.[12] Di sekolah peserta didik di bawah asuhan dan bimbingan guru, di mana peserta didik memperoleh pengajaran dan pendidikan. Mereka belajar berbagai macam pengetahuan dan keterampilan yang akan dijadikan bekal untuk kehidupan nanti di masyarakat. Pemberian ilmu pengetahuan dan keterampilan merupakan tugas utama dari sekolah.[13]

Dalam perspektif Islam, H. Hadari Nawawi dalam tulisannya mengemukakan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan formal fungsi dan tugasnya adalah :

  1. Membantu mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang dapat dipergunakan untuk memperoleh nafkah hidupnya masing-masing.
  2. Membantu mempersiapkan anak-anak agar menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan memecahkan masalah kehidupan, baik secara individu, bersama (masyarakat), atau bangsa.
  3. Meletakkan dasar-dasar hubungan sosial, agar anak-anak mampu merealisasikan dirinya (self realization) secara bersama-sama di dalam masyarakat yang dilindungi Allah.
  4. Membantu anak-anak menjadi muslim, mukmin dan muttaqin.[14]

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pada perubahan spiritual keagamaan anak di sekolah dipengaruhi oleh guru. Karena itu, guru di sekolah seharusnya menekankan tiga prinsip utama dalam upaya meningkatkan spiritual keagamaan anak (peserta didik)-nya.

Pertama, guru harus memberikan perhatian utama dalam skala perioritas terhadap pendidikan agama pada peserta didik. Untuk menopang pencapaian itu, maka setiap guru khususnya guru agama harus dapat merencanakan materi, metode serta alat-alat bantu yang memungkinkan anak-anak mengarahkan perhatiannya pada pelajaran pendidikan agama.

Kedua, para guru harus mampu memberikan pemahaman kepada anak didik tentang materi pendidikan yang diberikannya. Pemahaman ini akan lebih mudah diserap jika pendidikan agama yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi tidak terbatas pada kegiatan hafalan yang bersifat kurikuler semata.

Ketiga, setiap guru harus memiliki keahlian dalam bidang agama dan memiliki sifat-sifat yang sejalan dengan ajaran agama seperti terpuji dan dapat dipercaya.

Tiga prinsip yang harus dimiliki oleh guru sebagaimana yang disebutkan di atas, merupakan integritas kepribadian guru yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan spiritual keagamaan peserta didiknya, dan kepribadian guru yang demikian memotivasi peserta didik untuk mengikuti atau meneladani gurunya, dan hal ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap lingkungan pendidikan di sekolah.

C. Lingkungan Pendidikan Luar Sekolah

Lingkungan pendidikan luar sekolah terdiri atas dua, yakni lingkungan pendidikan informal dan non nonformal. Lingkungan pendidikan informal, adalah jalur pendidikan di rumahtangga dan atau dilaksanakan di lingkungan keluarga. Dalam perspektif Islam, memandang keluarga sebagai lingkungan bagi setiap individu berinteraksi.

Pendidikan informal, adalah pendidikan yang dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga di mana orang tua sebagai penanggungjawab. Pendidikan informal ini, tidak mengenal penjenjangan secara struktural. Pendidikan di lingkungan rumah tangga sebagai wadah pertama tempat anak menerima pesan-pesan pendidikan dari orang tuanya dan anggota keluarga lainnya. Pengalaman hidup bersama dalam rumah tangga yang dialami oleh anak-anak akan memberi andil yang besar untuk membentuk prilaku anak.

Di sini tampak jelas bahwa kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak-anak di rumah adalah justru merupakan suatu bentuk kegiatan belajar yang sesungguhnya.[15] Statement ini didasari oleh realita bahwa keluarga adalah tempat pengasuhan dan penggemblengan alami yang sanggup memelihara anak-anak yang sedang tumbuh, yang mampu mengembangkan phisik, daya nalar dan jiwa mereka.

Begitu pula, pengalaman empiris membuktikan bahwa institusi lain di luar keluarga tidak dapat menggantikan seluruhnya peran lembaga keluarga. Bahkan, pada institusi non keluarga seperti play group, sangat mungkin adanya beberapa nilai negatif yang berpengaruh jelek bagi proses pembentukan dan pendidikan anak.

Di samping informal, ada juga yang disebut lingkungan pendidikan nonformal, yakni Pendidikan dalam kategori yang terakhir ini biasa pula disebut Pendidikan Luar Sekolah (LPS), yakni semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib dan berencana di luar kegiatan persekolahan (ekstra kurikuler).[16] Misalnya, kursus-kursus baik di bidang umum maupun di bidang keagamaan, yang dalam sistem pengajarannya cenderung bersifat pengajaran bagi orang dewasa.

Dalam Undang-undang Sisdiknas pasal 26 dijelaskan bahwa pendidi-kan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendididikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.[17]

Beberapa pakar pendidikan menyatakan bahwa pendidikan non-formal adalah pendidikan yang diperoleh dalam keadaan yang diorganisir yang berlangsung terlepas dari program sekolah khusus. Pada sisi lain, dapat pula dibatasi bahwa pendidikan nonformal adalah setiap yang menyangkut pewarisan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berlangsung di luar sistem pendidikan formal.[18] Berdasar dari difinisi ini, maka pendidikan formal yang dimaksud adalah sistem pendidikan yang dilembagakan secara ketat, bertingkat-tingkat secara kronologis dan disusun secara hirarki.

Dapatlah dipahami bahwa pendidikan nonformal, merupakan pendidikan tambahan di lingkungan masyarakat yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan peserta didik. Hal tersebut disebabkan karena pada lembaga pendidikan nonformal, terdapat beberapa materi yang tidak diprogramkan oleh lembaga pendidikan informal (rumah tangga) maupun lembaga pendidikan formal (sekolah).

Untuk memperoleh hasil yang baik melalui pendidikan nonformal, maka diperlukan komponen-komponen yang harus disesuaikan dengan keadaan anak atau peserta didik, meliputi tenaga pengajar atau tutor, fasilitas, metode penyampaian dan waktu yang diperlukan. Pada sisi lain, Pendidikan nonformal, dapat pula disesuaikan dengan daerah masing-masing yang menjadi obyek sasaran atau raw input yang menyangkut :

  1. Penduduk usia sekolah yang tidak sempat masuk sekolah atau pen-didikan formal atau orang dewasa yang menginginkan.
  2. Mereka yang drop out dari sekolah atau pendidikan formal baik dari sengala  jenjang pendidikan.
  3. Mereka yang telah lulus satu tingkat pendidikan formal tertentu tetapi tidak meneruskan lagi.
  4. Mereka yang telah bekerja tetapi masih ingin mempunyai keterampilan tertentu.[19]

Dilihat dari raw input-nya, maka pendekatan pendidikan non-formal harus bersifat fungsional dan praktis serta berpandangan luas berintegrasi satu sama lain, yang akhirnya bagi yang berkepentingan dapat mengikutinya dengan bebas tetapi juga dengan peraturan tertentu.

Berdasar dari uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa pendidikan formal yang berjalan selama ini, memang perlu diiringi dengan pendidikan nonformal. Artinya perlu ada perubahan yang signifikan terhadap konsep pendidikan dengan mensejajarkan keurgensian pendidikan formal dengan pendidikan nonformal. Sebab, pendidikan formal di sekolah memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap lingkungan luar sekolah.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian,[20] atau totalitas semua nilai yang mungkin hasil perhitungan atau kualitas dari karakteristik tertentu mengenai sekumpulan obyek yang dipelajari sifat-sifatnya.[21] Sedangkan  sampel adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi obyek penelitian.[22] Tujuan penentuan sampel adalah untuk memperoleh keterangan mengenai obyek penelitian dengan cara mengamati hanya sebagian dari populasi.

Berdasar dari batasan tersebut atas dan kaitannya dengan penelitian ini, maka populasi penelitian adalah seluruh siswa SD Negeri No. 46 Satangnga, yang terdaftar tahun pelajaran 2007-2008, yang jumlahnya sebanyak 117.

Untuk mengefektifkan penelitian, maka ditetapkan sampel sebanyak 30 siswa, dan hanya diambil dari perwakilan kelas IV sebanyak 10 orang, kelas V sebanyak 10 orang, dan kelas VI sebanyak 10 orang.

Teknik penentuan jumlah sampel tersebut didasarkan pada random sampling, yang dilakukan secara acak dengan mengambil 30% dari jumlah populasi yang ada.[23] Dari estimasti jumlah responden tersebut maka keseluruhan sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Jumlah sampel tersebut dianggap mampu  mewakili populasi yang ada.

B. Instrumen Penelitian

Untuk mendapatkan data lebih lanjut, maka dalam penelitian ini digunakan prosedur dengan beberapa metode :

1.  Observasi

Metode observasi digunakan dalam rangka untuk mengumpulkan data  berkaitan dengan penelitian ini, yakni dengan cara pengamatan secara sengaja dan langsung ke obyek yang diteliti. Adapun sasaran dan obyek observasi adalah SD Negeri No. 46 Satangnga, guna memperoleh gambaran tentang proses pendidikan secara formal yang dilakukan di sekolah tersebut.

2. Interviu/Wawancara

Metode interviu atau wawancara, yaitu pengumpulan informasi dan data dengan mengadakan tanya jawab langsung kepada responden, yakni;

a.  Sebagian Siswa kelas IV, kelas V dan kelas VI yang dianggap jujur dan mampu mewakili dari tiap kelas. Informasi yang ingin diketahui dari mereka adalah hal-hal yang terkait dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendidikan di sekolah dan di luar sekolah

b.  Pihak sekolah, yakni kepala sekolah dan wakilnya serta guru-guru. Informasi yang ingin diketahui dari mereka adalah mengenai pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah, serta hal-hal yang terkait dengan pengaruh lingkungan sekolah dan luar sekolah

3. Dokumentasi

Adapun metode dokumentasi yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah mengambil data-data dari SD Negeri No. 46 Satangnga sebagai pelengkap data, misalnya; data jumlah siswa, guru, dan termasuk data-data yang berkenaan dengan gambaran umum mengenai keberadaan SD Negeri No. 46 Satangnga sebagai lembaga pendidikan formal tingkat dasar.

4. Angket

Metode angket, yaitu mengumpulkan data melalui pertanyaan secara tertulis yang disusun secara sistematis.[24] Terkait dengan itu, maka metode angket yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner langsung, yaitu daftar pertanyaannya melalui formulir diberikan kepada siswa-siswa yang dijadikan responden.

Angket tersebut penulis bagikan kepada 30 siswa yang dijadikan responden. Muatan angket (kuisioner) berupa pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda (a, b, c dan d). Dalam angket tersebut, termaktub pertanyaan-pertanyaan atau instrumen-instrumen mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendidikan di sekolah dan di luar sekolah.

C. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur penelitian, adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan penelitian. Mulai dari proses pencararian data sampai menemukan, dan menganalisisnya. Baik data-data tersebut diperoleh dari hasil riset pustaka, maupun yang berasal dari lapangan.

Adapun prosedur dalam hal pengumpulan data dari kepustakaan, penelitian menggunakan studi research dengan jalan membaca tulisan-tulisan yang ada relevansinya dengan obyek yang diteliti.

Di samping kepustakaan, adalah pengumpulan data-data dari lapangan yang dalam hal ini prosedurnya adalah mengumpulkan data-data dengan cara melihat, dan mengamati obyek yang diteliti. Dalam prosedur pelaksanaannya maka peneliti mengutamakan penggunaan dokumentasi, wawancara, dan mengedarkan angket kepada responden yang telah dipilih.

D. Jenis dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini terdiri atas dua, yakni :

  1. Data yang diperoleh langsung dari responden yang telah ditetapkan sebagai sampel, teknik pengumpulan datanya melalui angket (kuisioner), dan wawancara serta observasi atau pengamatan langsung melalui survey  di SD Negeri No. 46 Satangnga.
  2. Data yang diperoleh dari dari studi pustaka dan sumber-sumber lain yang erat kaitannya dengan pengaruh lingkungan sekolah dan lur sekolah pada SD Negeri No. 46 Satangnga. Jenis data seperti ini termasuk di dalamnya buku literatur yang ada hubungannya dengan obyek penelitian ini.

Adapun sumber data dalam penelitian ini terdiri dari semua unsur yang berada di lingkungan SD Negeri No. 46 Satangnga, mulai dari Kepala Sekolahnya, guru-guru, dan para siswanya.

E. Teknik Analisis Data

Dalam upaya menelusuri pengaruh pendidikan terhadap lingkungan di SD Negeri No. 46 Satangnga, maka data yang berhasil dikumpulkan atau diperoleh dalam penelitian ini, diseleksi menurut tingkat validitasnya.

Setelah data-data diseleksi, penulis memberikan analisis terhadapnya secara kualitatif dan deskriptif interpretatif. Apabila terdapat data atau fakta yang berbeda, maka diadakan pengujian kembali untuk mendapatkan data yang lebih akurat.

Data yang bersifat angka-angka yang menunjukkan jumlah prersentase, sudah barang tentu analisisnya bersifat kuantitatif. Dengan demikian penelitian ini mempergunakan analisis kuantitatif dengan cara membagi hasil data dengan distribusi frekuensi dengan rumus :

f

P = ——- x 100 %

n

P            = Persentase

f              = Frekuensi

n             = Jumlah Responden

100 %    = Angka pembulat.

 

sumber : http://www.artikelind.com/2011/04/pengaruh-pendidikan-terhadap-lingkungan.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s